Selasa, 27 April 2010
सेनी मुसिक Merokok
Rokok sangat mengganggu pikiranku. Bukan karena kontroversi fatwa haramnya, bukan juga karena fenomena anak di bawah umur yang kecanduan; tapi karena relasi industry rokok dengan industry music yang terjalin begitu manis. Hadduhh,,,ide buruk menulis tentang ini karena berarti aku harus berbicara panjang lebar.
Mungkin ini sepenuhnya subjektivitas non perokok. Yang, bersepakat bahwa merokok sama saja dengan menghisap racun. Aku pernah membaca di google, zat kimia yang bersifat racun yang ada pada rokok berjumlah lebih dari 3000jenis, salah duanya dipakai dalam pembuatan onderdil otomotif dan pesawat. Jadi, dari segi medis sudah tahulah kita ‘mustinya dibawa kemana rokok itu’. Jadi menurutku, rokok sebenarnya adalah narkoba (baca:candu) dalam bentuk yang sangat ‘innocent’. Ya, rokok –sekali lagi menurutku- adalah racun yang di-citra-i begitu rupa sehingga mempesona, memikat, memanipulasi sifat asli dan ini sepenuhnya kerja keras indusrti.
Industri rokok memang sangat brilliant. Aku belum punya data lengkap mengenai sejarah industry ini. Tapi, dengan fakta dari segi medis mengenai rokok dipastikan otak para pendahulu industry ini lebih dari sekedar cerdas. Mereka membuat produk yang notabene candu notabene racun dengan memberikan persepsi-persepsi social (baca:manipulasi) luar biasa padanya. Bahwa candu ini racun ini (rokok) adalah pria, symbol kelelakian, dan sebagainya. Tahap awal untuk menarik minat konsumen. Setelah tahap ini sukses dengan indikator kuantitas jumlah konsumen yang menyengangkan, mereka berusaha melanggengkan supremasi industrialnya dengan mencoba memasuki wilayah gerakan sosial. Maka jadilah kita familiar perusahaan rokok ini mem-beasiswa-i mahasiswa dengan syarat begini dan begitu atau merek rokok ini menjadi fasilitator bagi sineas-sineas muda untuk men-debutkan karya-karya mereka atau lagi merek rokok ‘yang itu’ menjadi fasilitator bagi band-band indie untuk mem-publish musik mereka. Semua ini, dalam sudut pandang orang yang –non perokok- sepertiku adalah upaya untuk membuat citra sosial yang aduhai, bahwa industry rokok tidak anti sosial, peduli, pemberi kesempatan bagi ‘komunitas pinggiran’ yang tidak diinginkan oleh indutri di bidangnya, yang pada akhirnya membuat orang-orang sepertiku yang non perokok menjadi bingung antara menolak seratus persen rokok atau menerima setengah-setengah. Tapi, saat aku tengah dalam proses memikirkan ini, semuanya sedang berjalan. Jadi, ya…gitu deh.
Tapi, aku serius memikirkan. Bahwa jika para pengonsumsi rokok sadar dengan jelas bahwa mereka adalah pecandu yang- rela tidak makan, tidak menyekolahkan anak- asal bias beli rokok ditambah kesadaran dan pengetahuan tentang bahaya medisnya, apa mereka masih pantas disebuat sadar; atau pintar?. karena bapak guru, pejabat, seniman, bahkan eksmud-pun juga perokok. Jadi, ini adalah fenomena sosial yang rumit. Ini lingkaran setan. Kembali..ya sudalah…
Tapi, aku masih resah. Karena aku bukan perokok dan terus terang saja benci dengan rokok; dan sebagai musikcholic aku terus memikirkan bisakah industry music tanpa rokok?. Setiap melihat pertunjukkan music indie yang luar biasa yahud dengan sponsor tunggal merek rokok tertentu perutku sebenarnya mules. Ko ga ada ya yang ‘aware’ (tanda kutipnya buat alasan ini: kalo niatnya bener2tulus karena rasa cinta yang begitu mendalam pada music) selain ‘mereka’? (ya itu, orang dari perusahaan rokok yang sebenernya mau bikin pencitraan doang). Aku memang suudhon dan belum ingin bertaubat. Jadi, dari sudut pandang ke-suudhon-an-ku para peserta di ajang2itu yang sesungguhnya murni talent sudah di-cedera-i ketulusannya karena mereka dibodohi. Dan aku, sebagai pecinta music sejati sangat tidak trimaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!
Karenanya aku sungguh2memikirkan apa yang bisa dijadikan pengganti dari industry rokok sebagai sponsor utama gerakan seni??. Jawabannya jelas bukan pemerintah lewat departemen budaya. Jangan berharap banyak pada mereka. Bayar utang Negara aja mereka engap-engap. Sekarang malah pake gaya seleb kurang karya yang kerjanya striping isu ini itu. Ck..negara macam apakah inih.
Dan meski sampai insomnia berhari-hari pun aku belum bisa menemukan caranya. Jadi ya….gitu deh.
Eiitss,,tapi bukan berarti aku anti dengan perokok lho ya..soalnya mereka kan cuma korban. Lagipula, kalu eik anti sama perokok nanti perjalanan mendapatkan pasangan pra nikah (baca:pacar) dan nikah jadi susah. Hahhahahhahahahaaa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar