Rabu, 14 April 2010
Khan! from epiglotis!!
My name is Khan. Baca Khan! from epiglottis. Hahaha. Semua sepakat Shah Rukh bermaian cerdas di film ini. Secara sinematografi dan penceritaan saya acung jempol 3. Film ini berhasil menceritakan dengan baik bagaiamana kondisi urban India di Amerika secara pribadi, pola pikir dan interakasi sosial di alam modern. Excelent!.
Seperti film-film India lain, My Name is Khan juga padat pesan dan makna. Ada beberapa hal yang menarik bagi saya. Pertama, tentu saja soal teroris. Isu global ini memang mengerikan; jika kita melihat dalam film ini bagaimana orang muslim diintimidasi sedemikian rupa oleh non islam karena generalisasi islam-teroris yang membabi buta. Hal ini mengingatkan saya pada Bertrand Russel dan bukunya Bertuhan Tanpa Agama. Buku yang mebuat kepala saya nyut-nyutan waktu membacanya dan begitu sarat makna; bagi saya yang bodoh ini hanya berisi satu pesan bawaan: jangan berani-berani mempelajari agama hanya dari perilaku penganutnya. Jangan melihat dan mengambil kesimpulan tentang islam secara membabi buta dari muslimnya. Karena, Islam yang syumul dan syamil itu konsep yang abstrak dan tanpa cela. Karena itulah, Alloh menurunkan Al-qur’an dan menjadikan Hadits sebagai media belajar. Nabi, Ulama, Kyai, dan apapun itu adalah media yang membantu membawa ke-abstrakan Islam menuju level konkrit. Sepertinya, -sekali lagi ini menurut saya-, kesalah inilah yang dilakukan oleh Russel. Jadi, muslim bukanlah Islam itu sendiri. Well,,ini memang masih sangat dangkal. Mungkin kedepan, saya akan belajar lebih banyak lagi tentang hal ini.
Kedua, dalam film diceritkan bagaimana msyarakat Amerika sebegitu bencinya dengan muslim. Tapi, diantara seikian banyak adegan intimidasi di film, semuanya dilakukan oleh orang kulit putih, Bahkan Khan, dalam perjalanannya bertemu presiden malah disambut hangat oleh komunitas kulit hitam. Ini memperlihatkan integritas sosial orang-orang kulit hitam. Bisa jadi, ini akibat psikologis dari politik-ras yang mereka alami dulu. Dikriminasi kulit putih terhadap mereka membuat mereka cenderung memahami keterbuangan, keterasingan, melihat penuduhan dengan lebih bijaksana dan manusiawi. Terus terang, hal tadi membuat saya nyaman karena saya sendiri berkulit hitam dan geuleuh dengan propaganda industry kecantikan bahwa cantik itu kulit putih. Bah. Silahkan Anda saksikan sendiri dalam film inih (Jah…..) siapa yang bersikap hangat pada Khan disaat dia sudah payah?? Orang Berkulit HITAM!! Arrrrggghhhh curcol ini mah^_^.
Ketiga, saya belajar satu hal dari Khan yang penderita syndrome asperger (bener ga?) bahwa kesempurnaan sesuatu terletak pada ketidaksempurnaannya. Hal-hal luar biasa yang dilakukan Khan adalah karena orang sepertinya mengartikan sesuatu harfiah saja. Baik dan tidak baik, tidak ada tengah-tengah. Pergi ke tempat mama jenny saat ada badai hanya untuk memastikan mama jenny dan joel selamat dan menolong mereka adalah tindakan konyol, menurut kita orang normal. Tapi, Khan dengan keyakinan sederhannya melaukan kekonyolan itu. Just do it; tanpa panjang analisa, tanpa banyak dialektika, Khan melakukan kebajikan seperti yang manusia butuhkan. Hah..tentu saja itu tak akan mampu dilakukan oleh orang normal dan panjang akal macam kita. Mampu, bukan dalam hal kemauan dan kemampuan fisik. Tapi, tanggung jawab berbuat kita berbeda dengan Khan, karena tingkat “kenormalan” kita berbeda dengannya. Ada ruang-ruang yang harus kita pertimbangkan matang sebagai konsekuensi kenormalan kita. Tapi, ada satu lagi pesakitan mental yang sangat mungkin melakukan seperti yang Khan lakukan yaitu penderita syndrome cinta buta akut!. hahahaha.
Jadi, ini film kira-kira masuk nominasi Oscar tidak yah??. Whatever….keberatan tidak kalau the next sekuelnya adalah: My Name Euis Khan??? Baca khan! from epiglottis! ^_^pizzzz.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar