Sabtu, 12 Februari 2011
NGENDON
Malam ini waktu milikku. Sepenuhnya dalam genggamanku. Meskipun senja mendiamkanku tadi, tapi aku tahu besok dia akan datang lagi. Akan kurayu lagi. Aku bukan martir, aku hanya mencari tujuan. Rinduku selalu menetes-netes untuk harapan.
Aku melihatnya menari diujung kesadaran. Raganya memintaku mendekat, namun otakku mati untuk merespon. Betapapun, jalannya terlalu lebar untuk kulalui. Kucoba lalui, dia malah berubah sempit. Inilah yang namanya tidak berpihak. Akan merana jika memaksa. Akan mati jika dituruti. Tapi dia nirwana..seluruh warna adalah dia.
Hatiku yang mengiyakan.
Selamat malam Pak de,,ini berpisah untuk yang kesekian kali. 11februari 2011. Tanggal cantik yang bukan keberuntunganku.
Selasa, 16 November 2010
इबु KOTA
Gedung-gedung tinggi
seolah ukuran panjang adalah bahasanya
sombong menantang langit
garang menantang manusia
Peluh-peluh ramai
mengalahkan angin
menyapu seluruh bau wangi
sesak padat
namun terang lampu semarak
membuat kalut serak
Jakarta,, Ibu Kota yang bosan
yang jenuh dengan dirinya
betapapun kekejamannya jujur
betapapun ketimpangan sosialnya jujur
namun ia lelah, menanti pemimpin yang mampu menjinakkan dirinya..
Selasa, 27 April 2010
सेनी मुसिक Merokok
Rokok sangat mengganggu pikiranku. Bukan karena kontroversi fatwa haramnya, bukan juga karena fenomena anak di bawah umur yang kecanduan; tapi karena relasi industry rokok dengan industry music yang terjalin begitu manis. Hadduhh,,,ide buruk menulis tentang ini karena berarti aku harus berbicara panjang lebar.
Mungkin ini sepenuhnya subjektivitas non perokok. Yang, bersepakat bahwa merokok sama saja dengan menghisap racun. Aku pernah membaca di google, zat kimia yang bersifat racun yang ada pada rokok berjumlah lebih dari 3000jenis, salah duanya dipakai dalam pembuatan onderdil otomotif dan pesawat. Jadi, dari segi medis sudah tahulah kita ‘mustinya dibawa kemana rokok itu’. Jadi menurutku, rokok sebenarnya adalah narkoba (baca:candu) dalam bentuk yang sangat ‘innocent’. Ya, rokok –sekali lagi menurutku- adalah racun yang di-citra-i begitu rupa sehingga mempesona, memikat, memanipulasi sifat asli dan ini sepenuhnya kerja keras indusrti.
Industri rokok memang sangat brilliant. Aku belum punya data lengkap mengenai sejarah industry ini. Tapi, dengan fakta dari segi medis mengenai rokok dipastikan otak para pendahulu industry ini lebih dari sekedar cerdas. Mereka membuat produk yang notabene candu notabene racun dengan memberikan persepsi-persepsi social (baca:manipulasi) luar biasa padanya. Bahwa candu ini racun ini (rokok) adalah pria, symbol kelelakian, dan sebagainya. Tahap awal untuk menarik minat konsumen. Setelah tahap ini sukses dengan indikator kuantitas jumlah konsumen yang menyengangkan, mereka berusaha melanggengkan supremasi industrialnya dengan mencoba memasuki wilayah gerakan sosial. Maka jadilah kita familiar perusahaan rokok ini mem-beasiswa-i mahasiswa dengan syarat begini dan begitu atau merek rokok ini menjadi fasilitator bagi sineas-sineas muda untuk men-debutkan karya-karya mereka atau lagi merek rokok ‘yang itu’ menjadi fasilitator bagi band-band indie untuk mem-publish musik mereka. Semua ini, dalam sudut pandang orang yang –non perokok- sepertiku adalah upaya untuk membuat citra sosial yang aduhai, bahwa industry rokok tidak anti sosial, peduli, pemberi kesempatan bagi ‘komunitas pinggiran’ yang tidak diinginkan oleh indutri di bidangnya, yang pada akhirnya membuat orang-orang sepertiku yang non perokok menjadi bingung antara menolak seratus persen rokok atau menerima setengah-setengah. Tapi, saat aku tengah dalam proses memikirkan ini, semuanya sedang berjalan. Jadi, ya…gitu deh.
Tapi, aku serius memikirkan. Bahwa jika para pengonsumsi rokok sadar dengan jelas bahwa mereka adalah pecandu yang- rela tidak makan, tidak menyekolahkan anak- asal bias beli rokok ditambah kesadaran dan pengetahuan tentang bahaya medisnya, apa mereka masih pantas disebuat sadar; atau pintar?. karena bapak guru, pejabat, seniman, bahkan eksmud-pun juga perokok. Jadi, ini adalah fenomena sosial yang rumit. Ini lingkaran setan. Kembali..ya sudalah…
Tapi, aku masih resah. Karena aku bukan perokok dan terus terang saja benci dengan rokok; dan sebagai musikcholic aku terus memikirkan bisakah industry music tanpa rokok?. Setiap melihat pertunjukkan music indie yang luar biasa yahud dengan sponsor tunggal merek rokok tertentu perutku sebenarnya mules. Ko ga ada ya yang ‘aware’ (tanda kutipnya buat alasan ini: kalo niatnya bener2tulus karena rasa cinta yang begitu mendalam pada music) selain ‘mereka’? (ya itu, orang dari perusahaan rokok yang sebenernya mau bikin pencitraan doang). Aku memang suudhon dan belum ingin bertaubat. Jadi, dari sudut pandang ke-suudhon-an-ku para peserta di ajang2itu yang sesungguhnya murni talent sudah di-cedera-i ketulusannya karena mereka dibodohi. Dan aku, sebagai pecinta music sejati sangat tidak trimaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!
Karenanya aku sungguh2memikirkan apa yang bisa dijadikan pengganti dari industry rokok sebagai sponsor utama gerakan seni??. Jawabannya jelas bukan pemerintah lewat departemen budaya. Jangan berharap banyak pada mereka. Bayar utang Negara aja mereka engap-engap. Sekarang malah pake gaya seleb kurang karya yang kerjanya striping isu ini itu. Ck..negara macam apakah inih.
Dan meski sampai insomnia berhari-hari pun aku belum bisa menemukan caranya. Jadi ya….gitu deh.
Eiitss,,tapi bukan berarti aku anti dengan perokok lho ya..soalnya mereka kan cuma korban. Lagipula, kalu eik anti sama perokok nanti perjalanan mendapatkan pasangan pra nikah (baca:pacar) dan nikah jadi susah. Hahhahahhahahahaaa
Rabu, 14 April 2010
Khan! from epiglotis!!
My name is Khan. Baca Khan! from epiglottis. Hahaha. Semua sepakat Shah Rukh bermaian cerdas di film ini. Secara sinematografi dan penceritaan saya acung jempol 3. Film ini berhasil menceritakan dengan baik bagaiamana kondisi urban India di Amerika secara pribadi, pola pikir dan interakasi sosial di alam modern. Excelent!.
Seperti film-film India lain, My Name is Khan juga padat pesan dan makna. Ada beberapa hal yang menarik bagi saya. Pertama, tentu saja soal teroris. Isu global ini memang mengerikan; jika kita melihat dalam film ini bagaimana orang muslim diintimidasi sedemikian rupa oleh non islam karena generalisasi islam-teroris yang membabi buta. Hal ini mengingatkan saya pada Bertrand Russel dan bukunya Bertuhan Tanpa Agama. Buku yang mebuat kepala saya nyut-nyutan waktu membacanya dan begitu sarat makna; bagi saya yang bodoh ini hanya berisi satu pesan bawaan: jangan berani-berani mempelajari agama hanya dari perilaku penganutnya. Jangan melihat dan mengambil kesimpulan tentang islam secara membabi buta dari muslimnya. Karena, Islam yang syumul dan syamil itu konsep yang abstrak dan tanpa cela. Karena itulah, Alloh menurunkan Al-qur’an dan menjadikan Hadits sebagai media belajar. Nabi, Ulama, Kyai, dan apapun itu adalah media yang membantu membawa ke-abstrakan Islam menuju level konkrit. Sepertinya, -sekali lagi ini menurut saya-, kesalah inilah yang dilakukan oleh Russel. Jadi, muslim bukanlah Islam itu sendiri. Well,,ini memang masih sangat dangkal. Mungkin kedepan, saya akan belajar lebih banyak lagi tentang hal ini.
Kedua, dalam film diceritkan bagaimana msyarakat Amerika sebegitu bencinya dengan muslim. Tapi, diantara seikian banyak adegan intimidasi di film, semuanya dilakukan oleh orang kulit putih, Bahkan Khan, dalam perjalanannya bertemu presiden malah disambut hangat oleh komunitas kulit hitam. Ini memperlihatkan integritas sosial orang-orang kulit hitam. Bisa jadi, ini akibat psikologis dari politik-ras yang mereka alami dulu. Dikriminasi kulit putih terhadap mereka membuat mereka cenderung memahami keterbuangan, keterasingan, melihat penuduhan dengan lebih bijaksana dan manusiawi. Terus terang, hal tadi membuat saya nyaman karena saya sendiri berkulit hitam dan geuleuh dengan propaganda industry kecantikan bahwa cantik itu kulit putih. Bah. Silahkan Anda saksikan sendiri dalam film inih (Jah…..) siapa yang bersikap hangat pada Khan disaat dia sudah payah?? Orang Berkulit HITAM!! Arrrrggghhhh curcol ini mah^_^.
Ketiga, saya belajar satu hal dari Khan yang penderita syndrome asperger (bener ga?) bahwa kesempurnaan sesuatu terletak pada ketidaksempurnaannya. Hal-hal luar biasa yang dilakukan Khan adalah karena orang sepertinya mengartikan sesuatu harfiah saja. Baik dan tidak baik, tidak ada tengah-tengah. Pergi ke tempat mama jenny saat ada badai hanya untuk memastikan mama jenny dan joel selamat dan menolong mereka adalah tindakan konyol, menurut kita orang normal. Tapi, Khan dengan keyakinan sederhannya melaukan kekonyolan itu. Just do it; tanpa panjang analisa, tanpa banyak dialektika, Khan melakukan kebajikan seperti yang manusia butuhkan. Hah..tentu saja itu tak akan mampu dilakukan oleh orang normal dan panjang akal macam kita. Mampu, bukan dalam hal kemauan dan kemampuan fisik. Tapi, tanggung jawab berbuat kita berbeda dengan Khan, karena tingkat “kenormalan” kita berbeda dengannya. Ada ruang-ruang yang harus kita pertimbangkan matang sebagai konsekuensi kenormalan kita. Tapi, ada satu lagi pesakitan mental yang sangat mungkin melakukan seperti yang Khan lakukan yaitu penderita syndrome cinta buta akut!. hahahaha.
Jadi, ini film kira-kira masuk nominasi Oscar tidak yah??. Whatever….keberatan tidak kalau the next sekuelnya adalah: My Name Euis Khan??? Baca khan! from epiglottis! ^_^pizzzz.
दसर Binatang
Senewen. Itulah yang aku rasakan pada seekor kucing kampung liar yang senantiasa mengunjungi tempat sampah di depan kamar kosku di lantai tiga. Tiap hari, hampir pasti sampah-sampah yang sudah kuatur rapih dalam kantung plastik terburai keluar. Ngeselin. Bahkan nasi basi aja masih mereka akal-akalin biar bisa dimakan. Udah ta diemin, eeehhh dia malah dengan seenaknya pupup di atas bad cover kesayangan akuh. Gimana ga muntabh??!! Sering, saking keselnya kucing itu aku pukul saja dengan sapu sambil ngomel-ngeomel: dasar kucing kampung bukan peliharaan orang jadinya ga tau sopan santun! demi melihat omelanku, adekku dengan begonya bilang: udahlah mba,,itu kan kucing maklumin aja orang dia ga pernah sekolah!. Glek! aku pikir-pikir..ho-oh yah..ini yang bego siapa?. kucing mana bisa negrti sopan satun. Mana bisa dia ngebedain ini kasur yang itu WC kalu mau pupup disini kalu mau tidur disono.. Mana tahu dia! Brarti Gue yang oon. Meskipiun ni ya, seperti yg akuh pernah pelajari di ekologi hewan, bahwa para binatang juga punya kompetensi berpikir. makanya mereka bisa berantem mempertahankan wilayah, rebutan makanan, buaya mundur teratur kalu ada kuda nil, ular tau waktunya ganti kulit, ikan salmon bermigrasi, semuanya lebih dari sekedar interaksi binatang itu dengan alam. Tapi, mereka bisa membaca tanda-tanda dan mengambil tindakan. Gue rasa ni ya, kucing dan smua binatang pun bisa bersopan santun kalo dilatih.
Nah mangkanya menurut Gue, Permsalahan ke-senewenan manusia pada binatang bukan hal yang kecil dan ga serius. Ini masalah serius. Para binatang itu, ga bisa selamanya inocent sembunyi dibalik alibi: Gue kan kaga pernah sekula jadi maap2ya kalo Gue ngencingin Kasur Loe Manusia!. Weh,,mustinya mereka tau, manusia juga punya hak untuk hidup nyaman tanpa diganggu dan direptin sama polah mereka yang urakan ituh. Mereka juga musti bisa dong membawa diri ketika bermasayarakat dengan para manusia, jangan minta forgive mulu, kita kan bukan ibu mereka. Lgian Gue, Gue kaga pernah tuh bersikap tidak me-mbinatangkan mereka. Gue kaga pernah berburu liar, kaga pernah nyabutin bulu-bulu mereka buat dibikin baju, tas, etc. Mustinya kan mereka tau diri!.
Sampai disini,,akuh jadi binun. Kalu manusia (Gue) menuntut para binatang itu bersikap kaya kita (manusia) trus apa bedanya kita sama mereka ya?. Walah..taksonomi klasik yang masukin manusia ke golongan animalia itu waktu mbikin kaga sepenuhnya ngelindur bisa jadi.
lalu, bagaimana manusia yang malah jadi kaya binatang??. Walah-walah..kita butuh psikolog hewan ini. Nabi sulaiman tidak sempat membukukan dengan benar karunia Alloh berupa kebisaan bicara dengan binatang sih..
Dari Iwan Fals, Erwin Moron sampai Yang Anonim....
Ada yang menarik dipagi buta ini. Kemarin malam, aku menyaksikan Iwan Fals diwawancara untuk sebuah acara tv. Presenter menanyakan apa motivasi Iwan menanam banyak sekali pohon di rumahnya, juga beberapa kali menggelar konser untuk kampanye tanam pohon. Jawaban yang diberikan Bang Iwan menarik menurutku. Beliau menjawab motivasinya adalah karena pohon itu menghidupi; yang karena hal ini, penjahat pun rugi jika mencabut meski hanya satu pohon. Menarik, karena jawabannya bukanlah untuk mencounter pemanasan global, atau karena kondisi bumi yg bla bla bla seperti yang tengah geger saat ini. Satu hal yang langsung terjun dikepalaku adalah: sosok ini adalah penganut kebenaran sederhana. Lalu, ketika presenter menanyakan tentang karya-karyanya yang selalu bicara tentang kondisi sosial, atau yah…bisa dikatakan berisi kritik sosial; Bang Iwan menjawab bahwa hal itu (muatan dalam karyanya) adalah proses hidup. Bahwa, itu hanya reaksi jiwa yang biasa saja karena dirinya hidup di tengah-tengah masyarakat dengan dinamika sosial dan dinamika politik yang saling memilin, menguakkan adil dan tidak adil. Berhubung dirinya adalah musisi (menurutku lebih tepatnya karena Bang Iwan memilih menjadi musisi) maka reaksi yg berupa sikap dan pendapat dr sudut pandangnya sebagai rakyat jelata ia tuangkan dalam lagu. Yang terjun dalam pikiranku sosok ini adalah pribadi sederhana yang tajam. Keren. Karena bisa saja Bang Iwan menjelaskan panjang lebar bahwa musik adalah salah satu media yang efektif untuk menyampaikan kritik sosial. Efektif, karena semua orang suka dan musik dalam konteks ini bersifat soft deconstruction. Mmm…mungkin bisa juga ditambah dengan menceritakan fakta sejarah bahwa aliran-aliran musik yang beragam, muncul akibat dinamika politik yg menyebabkan kondisi ekonomi suatu zaman bergolak hingga terjadi pergolakan sosial yang dahsyat yg mengakibatkan terjadinya peristiwa-peristiwa mental yang hanya bisa tersalurkan atau ter-representasi melalaui musik. Tentu saja, dengan kapasitasnya sebagai musisi senior akan membuatnya terlihat tambah ‘luwes’ ketika menjelaskan ini. Tapi, Bang Iwan tak melakukannya.
Ada satu lagi, musisi yang secara pribadi dan pola pikir keren menurut kualifikasku. Dia adalah Erwin Moron, dulu kita kenal sebagai vokalis Dr. Pm dan sekarang menjadi vokalis band Rock N Roll, Madmoron. Orang ini agak gila memang,,khas seniman. Tapi kurasa, seniman yang punya idealisme, visioner, dan memiliki keberanian mengambil resiko dijaman dimana music dikerdilkan oleh industry yg digerakkan oleh hasrat meraup keuntungan saja, tidak banyak dan salah satunya adalah orang ini. Pernah aku menanyakan padanya kok bisa bikin lagu yang ga komersil sama sekali (music Rock N Roll tapi tema sosial bos! mantabh gila!), dia menjawab; ini karya yang jujur yang pernah saia buat. Jd menurutnya, music itu gambaran kita. Representasi jiwa, rasa. Dan manusia yang normal sepertinya memang tidak melulu bergelut dengan persoalan cinta yg putus, bertepuk sebelah tangan atau cinta yang bertepuk tangan. Selain idealism tadi, orang ini juga berani ambil resiko dan memetakan arah idealismenya dgn benar. Bagaimana pun, musisi itu butuh makan meskipun musiknya sama sekali tak diirik pasar. Keberaniannya mengkader orang untuk gabung di band-nya menurutku adalah langkah kecil yg dilakukan oleh orang yg tidak boleh biasa saja. Bagaimana mungkin meyakinkan beberapa laki-laki dewasa untuk bermusik tanpa berpikir tentang uang dan ketenaran. Ini jelas pekerjaan sulit. Belum lagi, mencari jejaring. Belakangan, Madmoron berhasil menjadi Duta Narkoba untuk wilayah Jabar. Kerja keras dan kerja cerdas dilakukan sekeligus oleh orang ini beserta tim-nya. Luar biasa. Mengutip ungkapan Kang Erwin: Kalu jiwa loe Rock N Roll, kenapa juga musik loe mesti melayu??!!. Yang langsung terjun dipikiranku tentang sosok ini adalah: dia bisa jadi Ahmad Dhaninya kerajaan indie. (tp keknya udah ama label sekarang..syukur..^^ ikut seneng kang!)
Yang terkahir, ada seseorang yang memang dia pemain music, gitaris lebih tepatnya tapi aku malas menyebutnya musisi. Orang ini tidak bisa dibilang luar biasa meski tidak biasa saja. Keberaniannya untuk cabut dari kuliah dan memilih music menurutku luar biasa berani. Dan kupikir, langkah ini adalah kredit awal kesuksesannya. Dia telah memutuskan musik adalah titik awal dimana mimpi-mimpinya akan ia petakan. Orang ini, secara pribadi khas seniman. Santai, seru, menyenangkan dan sedikit gila. Musik buatannya juga lumayan. Minimal dia tidak ikut mainstream. Hanya, orang ini masih bingung antara tetap seperti itu atau ikut pasar. Karena, dia adalah laki-laki bimbang yang sudah kepepet nganggur kelamaan, umur yang kian beranjak, tuntutan sosial yang seabrek, dan tekanan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri. Karenanya dia masih saja stagnan. Padahal aku tahu dengan jelas, bakat dan ketekunannya luar biasa. Isi otaknya juga lumayan. Dia bukan anak band nothing yang Cuma tahu a dan b. Dan aku yakin, Tuhan tak akan sayang memberinya sukses suatu saat. Orang itu adalah…’orang itu’. Laki-laki biasa yang luar biasa, yang membuatku jatuh suka. Yang membuat Bandung selalu terdengar bersenandung untukku, yg tidak akan kusebut namanya disini. Takut groupisnya nambaaaaaaaahh. Maleeees akuh. Tapi, dia belum famous ko’. Mungkin akan… amiiiin. Yang baca tulisan ini,,,yg dibagian akhir sudah suspense,,hapunten yah..orang di paragraf terakhir ini mah taksiran sayah^_^. Hahaaayy….. hahhahahahhahahha. Pizzzzzzzzzzz
Langganan:
Postingan (Atom)
