Rabu, 14 April 2010
दसर Binatang
Senewen. Itulah yang aku rasakan pada seekor kucing kampung liar yang senantiasa mengunjungi tempat sampah di depan kamar kosku di lantai tiga. Tiap hari, hampir pasti sampah-sampah yang sudah kuatur rapih dalam kantung plastik terburai keluar. Ngeselin. Bahkan nasi basi aja masih mereka akal-akalin biar bisa dimakan. Udah ta diemin, eeehhh dia malah dengan seenaknya pupup di atas bad cover kesayangan akuh. Gimana ga muntabh??!! Sering, saking keselnya kucing itu aku pukul saja dengan sapu sambil ngomel-ngeomel: dasar kucing kampung bukan peliharaan orang jadinya ga tau sopan santun! demi melihat omelanku, adekku dengan begonya bilang: udahlah mba,,itu kan kucing maklumin aja orang dia ga pernah sekolah!. Glek! aku pikir-pikir..ho-oh yah..ini yang bego siapa?. kucing mana bisa negrti sopan satun. Mana bisa dia ngebedain ini kasur yang itu WC kalu mau pupup disini kalu mau tidur disono.. Mana tahu dia! Brarti Gue yang oon. Meskipiun ni ya, seperti yg akuh pernah pelajari di ekologi hewan, bahwa para binatang juga punya kompetensi berpikir. makanya mereka bisa berantem mempertahankan wilayah, rebutan makanan, buaya mundur teratur kalu ada kuda nil, ular tau waktunya ganti kulit, ikan salmon bermigrasi, semuanya lebih dari sekedar interaksi binatang itu dengan alam. Tapi, mereka bisa membaca tanda-tanda dan mengambil tindakan. Gue rasa ni ya, kucing dan smua binatang pun bisa bersopan santun kalo dilatih.
Nah mangkanya menurut Gue, Permsalahan ke-senewenan manusia pada binatang bukan hal yang kecil dan ga serius. Ini masalah serius. Para binatang itu, ga bisa selamanya inocent sembunyi dibalik alibi: Gue kan kaga pernah sekula jadi maap2ya kalo Gue ngencingin Kasur Loe Manusia!. Weh,,mustinya mereka tau, manusia juga punya hak untuk hidup nyaman tanpa diganggu dan direptin sama polah mereka yang urakan ituh. Mereka juga musti bisa dong membawa diri ketika bermasayarakat dengan para manusia, jangan minta forgive mulu, kita kan bukan ibu mereka. Lgian Gue, Gue kaga pernah tuh bersikap tidak me-mbinatangkan mereka. Gue kaga pernah berburu liar, kaga pernah nyabutin bulu-bulu mereka buat dibikin baju, tas, etc. Mustinya kan mereka tau diri!.
Sampai disini,,akuh jadi binun. Kalu manusia (Gue) menuntut para binatang itu bersikap kaya kita (manusia) trus apa bedanya kita sama mereka ya?. Walah..taksonomi klasik yang masukin manusia ke golongan animalia itu waktu mbikin kaga sepenuhnya ngelindur bisa jadi.
lalu, bagaimana manusia yang malah jadi kaya binatang??. Walah-walah..kita butuh psikolog hewan ini. Nabi sulaiman tidak sempat membukukan dengan benar karunia Alloh berupa kebisaan bicara dengan binatang sih..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar