Rabu, 14 April 2010

Dari Iwan Fals, Erwin Moron sampai Yang Anonim....

Ada yang menarik dipagi buta ini. Kemarin malam, aku menyaksikan Iwan Fals diwawancara untuk sebuah acara tv. Presenter menanyakan apa motivasi Iwan menanam banyak sekali pohon di rumahnya, juga beberapa kali menggelar konser untuk kampanye tanam pohon. Jawaban yang diberikan Bang Iwan menarik menurutku. Beliau menjawab motivasinya adalah karena pohon itu menghidupi; yang karena hal ini, penjahat pun rugi jika mencabut meski hanya satu pohon. Menarik, karena jawabannya bukanlah untuk mencounter pemanasan global, atau karena kondisi bumi yg bla bla bla seperti yang tengah geger saat ini. Satu hal yang langsung terjun dikepalaku adalah: sosok ini adalah penganut kebenaran sederhana. Lalu, ketika presenter menanyakan tentang karya-karyanya yang selalu bicara tentang kondisi sosial, atau yah…bisa dikatakan berisi kritik sosial; Bang Iwan menjawab bahwa hal itu (muatan dalam karyanya) adalah proses hidup. Bahwa, itu hanya reaksi jiwa yang biasa saja karena dirinya hidup di tengah-tengah masyarakat dengan dinamika sosial dan dinamika politik yang saling memilin, menguakkan adil dan tidak adil. Berhubung dirinya adalah musisi (menurutku lebih tepatnya karena Bang Iwan memilih menjadi musisi) maka reaksi yg berupa sikap dan pendapat dr sudut pandangnya sebagai rakyat jelata ia tuangkan dalam lagu. Yang terjun dalam pikiranku sosok ini adalah pribadi sederhana yang tajam. Keren. Karena bisa saja Bang Iwan menjelaskan panjang lebar bahwa musik adalah salah satu media yang efektif untuk menyampaikan kritik sosial. Efektif, karena semua orang suka dan musik dalam konteks ini bersifat soft deconstruction. Mmm…mungkin bisa juga ditambah dengan menceritakan fakta sejarah bahwa aliran-aliran musik yang beragam, muncul akibat dinamika politik yg menyebabkan kondisi ekonomi suatu zaman bergolak hingga terjadi pergolakan sosial yang dahsyat yg mengakibatkan terjadinya peristiwa-peristiwa mental yang hanya bisa tersalurkan atau ter-representasi melalaui musik. Tentu saja, dengan kapasitasnya sebagai musisi senior akan membuatnya terlihat tambah ‘luwes’ ketika menjelaskan ini. Tapi, Bang Iwan tak melakukannya. Ada satu lagi, musisi yang secara pribadi dan pola pikir keren menurut kualifikasku. Dia adalah Erwin Moron, dulu kita kenal sebagai vokalis Dr. Pm dan sekarang menjadi vokalis band Rock N Roll, Madmoron. Orang ini agak gila memang,,khas seniman. Tapi kurasa, seniman yang punya idealisme, visioner, dan memiliki keberanian mengambil resiko dijaman dimana music dikerdilkan oleh industry yg digerakkan oleh hasrat meraup keuntungan saja, tidak banyak dan salah satunya adalah orang ini. Pernah aku menanyakan padanya kok bisa bikin lagu yang ga komersil sama sekali (music Rock N Roll tapi tema sosial bos! mantabh gila!), dia menjawab; ini karya yang jujur yang pernah saia buat. Jd menurutnya, music itu gambaran kita. Representasi jiwa, rasa. Dan manusia yang normal sepertinya memang tidak melulu bergelut dengan persoalan cinta yg putus, bertepuk sebelah tangan atau cinta yang bertepuk tangan. Selain idealism tadi, orang ini juga berani ambil resiko dan memetakan arah idealismenya dgn benar. Bagaimana pun, musisi itu butuh makan meskipun musiknya sama sekali tak diirik pasar. Keberaniannya mengkader orang untuk gabung di band-nya menurutku adalah langkah kecil yg dilakukan oleh orang yg tidak boleh biasa saja. Bagaimana mungkin meyakinkan beberapa laki-laki dewasa untuk bermusik tanpa berpikir tentang uang dan ketenaran. Ini jelas pekerjaan sulit. Belum lagi, mencari jejaring. Belakangan, Madmoron berhasil menjadi Duta Narkoba untuk wilayah Jabar. Kerja keras dan kerja cerdas dilakukan sekeligus oleh orang ini beserta tim-nya. Luar biasa. Mengutip ungkapan Kang Erwin: Kalu jiwa loe Rock N Roll, kenapa juga musik loe mesti melayu??!!. Yang langsung terjun dipikiranku tentang sosok ini adalah: dia bisa jadi Ahmad Dhaninya kerajaan indie. (tp keknya udah ama label sekarang..syukur..^^ ikut seneng kang!) Yang terkahir, ada seseorang yang memang dia pemain music, gitaris lebih tepatnya tapi aku malas menyebutnya musisi. Orang ini tidak bisa dibilang luar biasa meski tidak biasa saja. Keberaniannya untuk cabut dari kuliah dan memilih music menurutku luar biasa berani. Dan kupikir, langkah ini adalah kredit awal kesuksesannya. Dia telah memutuskan musik adalah titik awal dimana mimpi-mimpinya akan ia petakan. Orang ini, secara pribadi khas seniman. Santai, seru, menyenangkan dan sedikit gila. Musik buatannya juga lumayan. Minimal dia tidak ikut mainstream. Hanya, orang ini masih bingung antara tetap seperti itu atau ikut pasar. Karena, dia adalah laki-laki bimbang yang sudah kepepet nganggur kelamaan, umur yang kian beranjak, tuntutan sosial yang seabrek, dan tekanan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri. Karenanya dia masih saja stagnan. Padahal aku tahu dengan jelas, bakat dan ketekunannya luar biasa. Isi otaknya juga lumayan. Dia bukan anak band nothing yang Cuma tahu a dan b. Dan aku yakin, Tuhan tak akan sayang memberinya sukses suatu saat. Orang itu adalah…’orang itu’. Laki-laki biasa yang luar biasa, yang membuatku jatuh suka. Yang membuat Bandung selalu terdengar bersenandung untukku, yg tidak akan kusebut namanya disini. Takut groupisnya nambaaaaaaaahh. Maleeees akuh. Tapi, dia belum famous ko’. Mungkin akan… amiiiin. Yang baca tulisan ini,,,yg dibagian akhir sudah suspense,,hapunten yah..orang di paragraf terakhir ini mah taksiran sayah^_^. Hahaaayy….. hahhahahahhahahha. Pizzzzzzzzzzz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar